Latar Belakang
Bung karno menyadari betul bahwa karakter bangsanya itu, masih sangat buruk dan rendah akibat dari ratusan tahun bangsa Indonesia mengalami hidup dalam penjajahan. Maka di cetuskanlah rencana–rencana besar Bung Karno itu dalam sidang Umum PBB di Amerika pada 30 September 1960 dengan tema: NATIONAL CHARACTER BUILDING TO BUILD OF THE WORLD A NEW (Membangun Karakter Nasional untuk membangun dunia baru), alih-alih menjadi kenyataan, Justru Bung Karno keburu tumbang, akibat terjadinya tragedi Kemanusiaan yang sungguh sangat memilukan tahun 1965.
Kemudian Soeharto mencoba untuk melanjutkan rencana besar Bung Karno tersebut dengan program P4-nya namun hasilnya kurang bisa dijadikan andalan bahkan Soeharto jatuh pada tahun 1998, seiring dengan jatuhnya Soeharto, maka program P4 pun dihentikan/ dihapus.
Dalam sebuah Buku karangan MOCHTAR LUBIS yang Berjudul ”MANUSIA INDONESIA” sekitar tahun 80’an (Mochtar Lubis adalah Wartawan Senior pemilik Harian Indonesia Raya). Dalam karangan bukunya Beliau mengelompokkan ciri-ciri Bangsa Indonesia dari sudut pandang buruknya.
Ciri-ciri Bangsa Indonesia (di pandang dari sisi buruknya) antara lain Bangsa Indonesia itu bangsa yang:
- Gemar dengan dukun, klenik, mistik, tahayul, jimat-jimat dan lain–lain
- Bangsa yang mudah diadu domba
- Bangsa yang tak perduli dengan sesama ciptaan Tuhan
- Bangsa yang gemar saling memfitnah
- Bangsa yang suka mencuri
- Bangsa yang gemar membicarakan keburukan atau kejelakan sesama ciptaan Tuhan
- Bangsa yang tidak mau atau tidak suka dikritik
- Bangsa yang kurang bertanggung jawab
- Bangsa yang pemalas dan pombong
- Bangsa yang sangat sulit untuk disiplin
- Bangsa yang gemar membesar–besarkan suatu permasalahan
- Bangsa yang gampang emosi dan amarah
Dalam kondisi masyarakat yang jahil (kegelapan) persahabatan hancur, karena setiap warganya berlomba-lomba saling mengkhianati terhadap sesama, Kepercayaan musnah, hukum serta institusi lumpuh sehingga tidak lagi sanggup menegakkan kepatuhan, penyalahgunaan kekuasaan semakin berani terang-terangan, ketamakan dan keserakahan di dorong ambisius dan syahwat untuk meraih/ mendapatkan kehormatan merajalela, kejujuran dan kebaikan dimusuhi, sedangkan kejahatan diagung-agungkan/ di puja-puja.
Dalam kehidupan publik adalah merupakan refleksi nilai-nilai (kualitas) moralitas, sejauh ini kehidupan publik kita menampilkan nilai-nilai buruk. Pergaulan dan etika sudah terpisahkan seperti air dan minyak. Keadaan tersebut mendorong kesadaran, bagaimana cara untuk memulihkannya. Kondisi yang sungguh sangat memperhatinkan saat ini harus segera dilakukan secara total untuk Penyembuhan/ Pemulihan, bagi kehidupan Berbangsa dan Bernegara serta bermasyarakat. Salah satunya caranya adalah: memperkuat kembali landasan etika sebagai karakter bangsa dan landasan dasar nyawa bangsa/ falsafah bangsa, jalan hidup bangsa sendiri yaitu : ”PANCASILA”
Sudah banyak di tulis oleh para ahli Sejarah tentang PANCASILA ini. Namun ketidaktaatan, keteledoran dan penyelewengan atas nilai-nilai PANCASILA oleh bangsa sendiri terutama oleh para penyelenggara Negara, akibatnya fungsi PANCASILA sebagai BINTANG PENUNTUN (LEAD STAR DINAMIS) itupun redup oleh kabut-kabut kegelapan di dalam hati setiap insan-insan manusia.
Gelap kepada nilai-nilai keluhuran budi, tata krama sopan santun yang akhirnya lengkaplah sudah menjadi bangsa yang gelap, merasa asing terhadap jati dirinya, asing terhadap jati diri bangsanya sendiri.
Sejak Program P4 dihentikan, bangsa Indonesia seperti semakin hari semakin jauh dari jati dirinya (Pancasila). Kalangan-kalangan tertentu justru dari golongan anak-anak muda seperti telah kehilangan jati dirinya sebagai bagian bangsa Indonesia. Ditandai dengan adanya gerakan-gerakan radikal, tawuran antar kampung, perang antar suku, perang antar pemeluk agama dan perilakunya aneh-aneh yang sungguh mencemaskan bagi seluruh bangsa indonesia.
Dengan kronologis seperti hal tersebut diatas oleh Bapak Presiden Joko Widodo difasilitasilah dengan setingkat menteri yaitu Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Beberapa waktu yang lalu dicetuskannya REVOLUSI MENTAL yang bisa dimaknai sebagai Pembangunan Karakter secara nasional.
Dengan Latar Belakang keadaan seperti hal tersebut: Kami sebagai bagian anak bangsa terpanggil, sebagai bentuk tanggung jawab kami yang menginginkan keadaan yang lebih baik bagi Bangsa Indonesia ini. Melalui Proses yang panjang sejak tahun 1969 hingga saat ini, kami atas dasar desakan/ dorongan keinginan luhur juga atas dasar ”PESAN MULIA TUHAN”, kami menyadari dan merupakan suatu keharusan untuk secepatnya membantu kelancaran pemerintah, dan meringankan pekerjaan pemerintah/ Negara dengan menyelamatkan bangsa dan negara dari KEGELAPAN Terhadap Tuhan melalui PROGRAM PEMBANGUNAN MANUSIA PANCASILA NUSANTARA (PPMPN).